Siapa yang mau terlahir ke dunia sebagai seorang gay?

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian begitulah firman-Nya dalam sebuah kitab suci. Tak hanya kematian, setiap makhluk hidup juga memiliki takdir yang telah digariskan, baik berupa takdir yang dapat diubah atau pun tidak. Jika berbicara mengenai takdir yang tidak dapat dibubah tentu kita tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Namun, tentu Tuhan juga menyelipkan sebuah takdir yang dapat dibuah.

Pertanyaannya kini adalah apakah terlahir sebagai Gay  adalah takdir yang bisa diubah atau tidak?. Tentu setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda – beda, ada yang menjawab bisa diubah, namun suara – suara kaum lain berkata tidak. Entah, mana yang benar dan salah itu hanya Tuhan yang tahu. Pada artikel kali ini saya akan membahas hal tersebut. Hal yang sebenarnya sudah cukup familiar akan tetapi sulit untuk dijelaskan.

Sebagian besar kaum heteroseksual menganggap gay adalah sebuah ketidak normalan dalam kehidupan yang tidak bisa diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kita bedah lebih dalam secara agama gay pun tidak dibernarkan bahkan harus diruqiyah. Ruqiyah sendiri adalah semacam metode penyembuhan dengan membaca ayat – ayat suci pada orang yang sakit, salah satunya adalah gay.

Namun, rasanya tidak fair jika kita hanya melihat dari sisi yang bertolak belakang, lalu melupakan pendapat mereka yang merasakan sendiri tidak enaknya menjadi kaum yang berbeda. Kita yang tidak pernah menjadi gay memang rasanya akan sulit merasakan begitu dalam apa yang mereka rasakan, tapi percayalah bahwa menjadi gay dan hidup dalam masyarakat yang majemuk tidaklah mudah. Akan tetapi kebanyakan orang hanya bisa berkata  “ ah itu mah alesan elo ajah, gay pasti bisa berubah kok,setiap ada kemauan pasti ada jalan”.

Saya juga setuju dengan konsep dimana setiap ada kemaun pasti ada jalan, namun yang menjadi pertanyaannya apakah kamu yang berkata demikian siap mendampingi dia hingga benar – benar berubah atau kamu hanya mencari pembenaran atas ketidakmampuan dirimu sendiri. Lebih baik diam dan tak bersuara, daripada banyak bersuara tanpa memberikan solusi. Banyak orang pandai mencari kesalahan, tapi lupa bahwa memberikan solusi adalah paling penting.

Kenapa saya terlahir sebagai Gay ?

Saat ini kita terlahir di dunia ini, tak ada yang bisa memilih dari rahim mana ia akan keluar. Apa dari rahim seorang bangsawan atau rakyat jelata, tak juga bisa memilih apakah ingin terlahir sebagai wanita atau pria. Semua sudah digariskan dan ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Saat takdir itu sudah digariskan kita hanya bisa berkata ya dan menjalankan apa yang sudah ada, bahkan termasuk terlahir sebagai gay. Sebagian gay yang kini beranjak dewasa pernah merasakan masa kecil yang sedikit berbeda namun belum mengerti apa yang terjadi pada saat itu. Seperti, lebih senang bermain dengan cewe, memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, dan cenderung menyukai hal – hal berbau wanita.

Pada saat itu mungkin kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diri ini, namun seiring berjalannya waktu kita sadar dan memahami apa yang terjadi pada diri ini. Saat semua itu mulai bisa dipahami, pertanyaan kedua muncul yaitu “ Kenapa Tuhan memilih saya untuk terlahir seperti ini, dimana sebagai besar masyarakat menganggap ini salah”. Tidak, Tuhan tidak pernah salah atas apa yang ia takdirkan kepada hambanya. Kita sebagai manusialah yang kadang belum memahami sepenuhnya hikmah dibalik takdir-Nya.

Memang tidak mudah mengerti atas apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, mengingat keterbatasan kita sebagai manusia. Tapi, percayalah bahwa apa yang ia takdirkan kepada kita selalu baik, meskipun terkadang menurut kita tidak demikian. Hal yang bisa kita lakukan pada dasarnya hanyalah memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki agar hidup ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Jangan ada lagi pertanyaan kenapa saya terlahir sebagai seorang gay , tapi ubahlah pertanyaan menjadi “ Hal bermanfaat apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang gay”.

Mereka yang tak mengerti kita (Gay) atau kita (Gay) yang harus mengerti mereka?

Sebagian Kaum heteroseksual hanya bisa berkata bahwa menjadi gay itu adalah sebuah kesalahan, padahal tanpa mereka harus jelaskan kaum gay itu sendiri sudah paham hal tersebut. Tapi yang tidak pernah dipahami oleh kaum heteroseksual adalah mengapa seseorang menjadi gay, apa yang melatarbelakanginya dan bagaimana merubahnya. Karena kebanyakan kaum heteroseksual hanya dapat berkata “ salah, salah, dan salah.” Tidak ada sebuah solusi dan pemikiran yang lebih terbuka agar semua pihak bisa menerima dengan baik.

Maka tak heran dalam beberapa kasus kaum heteroseksual dan gay selalu menemui titik buntu. Tentu tidak ada yang salah jika setiap orang memiliki prinsip dan penilian tersendiri terhadap sesuatu hal. Hanya saja terkadang kita juga harus mengerti terhadap prinsip dan penilaian orang lain. Sebagai makhluk hidup tentu kita ingin dihargai baik dalam hal apapun, apalagi soal prinsip. Kaum heteroseksual ingin kaum gay mengerti begitu pun sebaliknya.

Lantas, pertanyaannya adalah siapakah yang harus dimengerti dan mengerti? Tentu haruslah keduanya. Kaum heteroseksual harus mengerti bahwa menjadi seorang gay dan merubah menjadi normal tidaklah semudah membuang liur di jalanan. Berkata itu memang mudah, tapi terkadang praktiknya butuh effort yang luar biasa. Jika kita belum pernah merasakan posisi yang orang lain rasakan memang mudah sekali berkata – kata, tapi percayalah bahwa itu tidak mudah.

Lalu, kaum gay juga harus mengerti bahwa hidup bermasyarakat tentu ada norma – norma yang harus ditaati. Sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan ini, kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Maka dari itu janganlah menganggap  diri kita yang paling benar. Sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan sudah sepatutnya kita menyadari bahwa apa yang terkadang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain baik. Sudah saatnya semua saling terbuka dan bukan bersikukuh serta merasa benar atas apa yang ia yakini.

Haruskah saya menjalani takdir sebagai seorang Gay ?

Jawaban atas pertanyaan itu adalah iya, tidak ada jawaban lain selain iya. Jalanilah apa yang sudah ditadkirkan oleh Tuhan. Jika memang pada suata saat takdir kamu sebagai gay itu salah dan kamu yakini bisa diubah maka lakukanlah. Seperti yang sudah saya bilang bahwsannya setiap orang punya prinsip hidup yang berbeda – beda. Termasuk, salah atau benar menjadi serorang gay.

Apa yang menurut kita benar jalankan, apa yang tidak ya sudah buang. Hidup kan sesimple itu hanya saja terkadang suara – suara bising membuat hidup ini terasa berat dan rumit. So, jalanilah kehidupan mu saat ini dengan penuh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Percayalah di dalam lubuk hati terdalam seorang gay, mereka juga merasa bersalah atas dirinya sendiri, dan jika waktu bisa diputar kembali mungkin mereka akan meminta kepada Tuhan untuk tidak ditakdirkan sebagai seorang Gay. Tapi tentu semua itu mustahil, apa yang ada saat ini itulah yang harus dijalani tanpa complain kepada sang Pencipta.

Tapi kata – kata memang tidak semudah kenyataan. Hidup sebagai seseorang yang memiliki orientasi seksual berbeda di tengah tingkat homopobia yang tinggi di negeri ini memang tidak mudah. Dibutuhkan mental baja dan tidak cengeng terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan ini.Tetap tegar, tersenyum dan berbuat baik itulah yang bisa dilakukan. Jangan pernah dendam terhadap mereka yang tidak menyukai kita. Lupakan apa kata – kata mereka dan jalankan apa yang telah digariskan.

Percayalah selalu terselip hikmah terhadap apa yang terjadi saat ini, kita memang tidak bisa mengerti dengan mudah tapi yakinilah bahwa ini adalah yang terbaik untuk kita. Jangan pernah menyalahkah Tuhan atas apa yang terjadi, karena Ia adalah Maha Benar dan tidak pernah salah. Kitalah yang kadang tidak pernah mengerti apa maksud-Nya. Stop mencari alasan dan jalani apa yang telah ditakdirkan, karena hidup untuk dijalani bukan diratapi.