LGBT = (penular) HIV, suatu statement yg sungguh tidak adil!

Kebanyakan orang yang membaca berita tentang LGBT pasti akan menyimpulkan beberapa hal, diantaranya:

  1. LGBT = (penular) HIV, yang bisa berubah menjadi AIDS
  2. Pembela/Aktivis LGBT tidak konsisten dengan perjuangannya dan tidak peduli dengan LGBT, terutama penderita HIV, AIDS. Lihat saja, dalam situasi seperti ini, di saat ada 2 orang LGBT yang meninggal, aktivis pun tidak mau membantu.

Apakah LGBT = (penular) HIV

Banyak masyarakat sampai sekarang masih menyangkut pautkan LGBT dengan penularan HIV. Bahkan mungkin banyak yang tidak tahu perbedaan HIV dan AIDS.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIVFIV, dan lain-lain).

HIV bisa menyebar karena perilaku hubungan seksual yang tidak aman, pemakaian jarum suntik narkoba, jarum tattoo, bahkan transfusi darah. Hubungan seksual yang tidak aman itu meliputi gonta-ganti pasangan serta hubungan seksual tanpa pengaman (kondom). Umpama ada dua orang A dan B. A dilahirkan gay dan berperilaku seks aman, sementara B seorang yang hetero dan berperilaku seks tidak aman. Maka B lebih beresiko menyebarkan HIV daripada A yang homoseksual. Dari sekian banyak jumlah penderita HIV dan AIDS, jumlah penderita terbanyak ada pada kelompok heteroseksual. Data resmi Jumlah Penderita HIV, AIDS 2014, menunjukkan, jumlah infeksi HIV yang dilaporkan menurut faktor resiko, pada kaum heteroseksual 8.922, sedangkan pada hubungan laki-laki dengan laki-laki 2.518, karena penasun (penggunaan napza suntik) 1.348, dan karena faktor lainnya, 4.793 penderita.

Bisa dilihat, faktor penularan melalui hubungan seksual tidak aman masih yang tertinggi. Ini membuktikan rendahnya pengetahuan tentang hubungan seksual yang aman. Kenapa? Apa karena absennya pendidikan seks yang seharusnya diajarkan sejak dini?

Aktivis LGBT bahkan KPAP Jatim yang dikatakan tidak mau membantu jenazah yang meninggal karena HIV, AIDS

Para aktivis LGBT biasanya sukarelawan, yang berarti tidak dibayar atas semua pekerjaannya. Serta jumlah mereka yang tidak banyak. Tapi hak-hak yang mereka perjuangkan banyak. Perjuangan Hak-Hak LGBT, Litbang dan KomNas perempuanYogyakarta Principle, the Application of International Human Rights Law in relation to Sexual Orientation and Gender Identity. Selain itu, seperti orang biasa, mereka juga punya kehidupan pribadi masing-masing, dari urusan pekerjaan sampai keluarga. Memang akan lebih baik kalau ada orang dari aktivis LGBT yang bisa membantu, pertanyaannya, kenapa tidak ada? Itu yang seharusnya dicari tahu dan dicari solusinya. Menyalahkan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.

Apakah semua orang sudah paham akan bahaya HIV dan cara penularannya? Bagaimana AIDS bisa terjadi?

Kenapa keluarga bisa sampai menolak anggota keluarganya sendiri? Apakah stigma negatif yang beredar di masyarakat penyebabnya? LGBT identik dengan aib keluarga?

Tidak adanya biaya? Masalah kesehatan selalu menjadi pukulan terbesar pada rakyat miskin. Jumlah rakyat miskin di Indonesia juga sangat besar.

Apakah karena mereka takut tertular HIV dari proses pemandian jenazah? Apakah karena masalah ada dan tidaknya waktu? Apakah karena dana? Kalau memang negara dan masyarkat menginginkan aktivis LGBT selalu hadir dalam keadaan darurat seperti itu, seharusnya ini juga harus dicarikan solusinya.

Solusi yang perlu dicari, bukan siapa yang bersalah. Kita harus melihat masalah tersebut sebagai wake-up-call, dan mulai mencari solusinya.

Sumber :

  • sindikter.dikti.go.id
  • depkes.go.id wikipedia, republika