Ini alasan kenapa banyak Personal Trainer Fitness (PT) jual diri (money boys)

Jika membahas kebutuhan hidup memang seakan tak akan pernah ada habisnya. Kita akan selalu dihadapkan pada ketidakcukupan akan sesuatu hal yang telah kita miliki saat ini. Cukup atau tidak cukup pada dasarnya adalah hal yang relatif bagi sebagian orang. Ada yang merasa cukup dengan gaji 5jt, namun ada juga yang merasa kurang meski sudah memiliki gaji 15 jt. Ini memang kembali lagi kepada gaya hidup dan kebutuhan hidup seseorang yang tentu berbeda – beda.

Wajar rasanya  jika gaji 15 juta terus nongkrongnya di café or mall setiap minggu, memakai HP mahal dan mengendarai mobil. Karena memang sesuai dengan penghasilan yang ia dapatkan. Namun, apa jadinya jika mereka yang bergaji pas – pas’an namun memiliki kebutuhan hidup yang tinggi bukan untuk bergaya tapi memang untuk kebutuhan hidup. Contohnya saja seorang Ayah yang harus mencari uang bagi keluarganya, disaat apa yang ia sudah dapatkan kurang maksimal, pastinya akan mencari jalan lain guna menambal kekurangan yang ada.

Cara menambal kekurangan pendapatan inilah yang masing – masing orang memiliki cara yang berbeda – beda. Ada yang berjualan, bekerja sampingan hingga menjual diri. Menjual diri, memang bukan sesuatu hal yang baru akan tetapi ada fenomena yang mesti saya bahas tentang jual diri ini yaitu Jual Diri di kalangan Personal Trainer.

Sebenarnya mengupas alasan tentang mengapa seorang personal trainer pada akhirnya ada yang menjual diri itu sangan mudah, alasannya adalah uang. Ya, tak bisa dipungkiri menjadi Personal Trainer (PT) memang tidak memiliki gaji yang besar.Hal ini tentu tidak sepadan dengan pengeluaran yang ada terlebih lagi jika sudah menikah.

Adanya celah mendapatkan pundi – pundi uang dengan cara menjual diri menjadi sebuah kesempatan yang tidak dilewatkan sebagain orang. Terlebih lagi dikalangan gay yang haus akan sex tentu akan siap membayar mereka yang berbedan sispex , manly dan top untuk memuaskan birahinya. Lantas, sejauh manakah fenomena ini berkembang dan sampai kanpan? Mari kita bahas sambal ngupil ( jorok wkwkw).

A.   Alasan Jual Diri

Saya tidak akan membahas begitu detail tentang alasan mengapa seorang Personal Trainer menjual  dirinya dikalangan gay. Pertama – tama saya akan membahas dari sisi ekonomi. Seperti yang sudah saya bahas diatas bahwa menjadi seorang Personal Trainer terkadang gaji yang didapatkan tidak terlalu besar, tidak sebanding dengan pengeluaran tiap bulan apalagi jika sudah menikah dan memiliki anak.

Untuk itulah mereka ( personal trainer)  yang memiliki badan sispex memanfaatkan kelebihannya untuk menarik kaum gay merasakan sensasi tubuhnya dengan imbalan uang. Ini tak ubahnya seperti hokum timbal balik, Personal Trainer  dapat uang dan gay yang menyewanya mendapatakan kepuasan. Keduanya merasa sama – sama puas dan tak ada yang tersakiti.

Lantas, berapa sekali memanggil Escort Personal Trainer? Ada berbagai macam harga yang ditawarkan mulai dari yang termurah 300 ribu – 3jt. Harga ini tergantung dari bentuk tubuh, wajah hingga sosoknya yang terkenal atau tidak.  

B.   Hukum Permintaan dan Penawaran

Dalam hukum ekonomi kita mengenal istilah permintaan dan penawaran. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dan saling bersinergi ,sama halnya dengan fenomena Personal Trainer  jual diri. Adanya penawaran atau kebutuhan dari sebagain besar kaum gay bot berduit untuk mendapatkan kepuasan birahi dari seorang top manly dan sispex menjadi celah tersendiri.

Mungkin awalnya Personal Trainer itu malu – malu namun saat disodorkan uang menjadi sangar dan beringas serta siap memuaskan pelanggan. Sekali, dua kali hingga akhirya menjadi keterusan dan seakan menjadi pekerjaan sampingan guna menghasilkan uang.

Ya, selama masih adanya kebutuhan dan kemampuan sebagian besar kaum gay bot berduit untuk mendapatkan kepuasan birahi maka dapat dipastikan fenomena jual diri dikalangan personal trainer akan terus berlanjut dan tak akan pernah berhenti .sekalipun matahari dan bulan sudah menikah.

C.   Seberapa Banyak Personal Trainer yang jual diri

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya pun tidak dapat memberikan jawaban yang pasti akan hal itu. Butuh riset tersendiri untuk dapat membuktikan berepa jumlah escort dari kalangan personal trainer. Karena tentu tidak semua personal trainer itu gay, dan rela menjual dirinya hanya untuk uang. Hanya personal trainer tertentu sajalah yang menggunakan cara tersebut guna mendapatkan uang dengan cepat.

D.   Sampai kapan fenomena ini akan terjadi

Tak ada jawaban pasti akan sampa kapan fenomena personal trainer yang menjadi escort. Hal yang pasti selama masih adanya permintaan dari kalangan gay bot yang haus akan belaian para top manly dan sispex fenomena ini akan tetap terus ada. Mengingat jumlah top yang terbatas di kalangan gay serta kualitas yang tidak terlalu baik, membuat sebagian bot lebih memilih membayar escort terutama dari kalangan personal trainer yang telah memiliki badan yang cukup bagus.

E.   Salahkah Menjadi Escort ?

Bisa dikatakan salah, namun disisi lain hal itu juga tidak bisa dikatan kebenarannya yang sepenuhya. Sebelum kita menjudge seseorang memilih jalan yang berbeda ada baiknya kita memang mengupas terlebih dahulu latar belakang serta alasannya. Setelah kita mengetahui alasan tersebut barulah kita bisa menyimpulkan apakah hal yang dilakukan oleh orang tersebut salah atau tidak.

Misal saja , ada seorang personal trainer yang menjadi escort atau cowo bayaran guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Jika hanya mengandalakan gaji sebagai personal trainer tentu tidak akan cukup, hal hasil ia mengambil jalan pintas sebagai escort. Apakah ini bisa disebut sebagai sebuah kesalahan? Maybe yes, maybe no.

Pada dasarnya fenoma jual diri  atau yang dikenal dengan sebutan escort bukanlah sesuatu  hal yang baru dan pernah saya bahas juga di blog ini. Hanya saja kali ini saya membahas lebih dalam yaitu tentang personal trainer yang merangkap menjadi escort. Saya sengaja membahas hal ini agar kita bisa lebih terbuka dan tidak dengan mudah menjudge sesuatu halnya tanpa melihat latar belakang yang mendasarinya.

Acap kali kita dengan mudah menjudge orang lain salah , padahal diri kita sendiri belum tentu benar. Kita seakan hakim bagi orang lain padahal diri kita sendiri adalah terdakwa. Mudah menilai orang lain, tapi sulit rasanya menilai diri sendiri bahkan terkadang ketika dinilai salah kita menjadi sangat arogan dan egois. Untuk itulah tidak arif rasanya jika kita hanya menjudge bahwa personal trainer yang menjadi escort adalah sebuah kesalahan yang sepenuhnya.

Sebagai manusia biasa yang hidup tidak luput dari dosa memang ada baiknya kita berfikir jernih sebelum menyimpulkan sesuatu. Jangan mudah menilai orang lain salah padahal disaat yang bersamaan kita masih berlumur dosa. Bijaklah dalam menilai sesuatu hal agar kelak penilaian orang terhadap diri kita sendiri seperti itu.