Cerita seorang Agan Harry : “Ada cinta diantara kita”

Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.

Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama satu tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Agan Harry : ganteng, pintar, muscle dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.

Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya (tinggi besar, berkulit gelap, gempal namun sabar). Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.

Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Kita saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya— . Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, makan di warteg atau makan malam berdua di resto. Indah bukan?